Senin, 19 November 2012

Janda, Sebuah Status Yang Serba Salah


Janda, sebuah status yang serba salah

Tema : Prasangka, Diskriminasi dan Etnosentrisme

Dalam masyarakat majemuk apalagi yang memandang bahwa sebuah perkawinan yang normal adalah yang terdiri dari suami-istri lengkap, merupakan anggapan kurang ajeg apabila seorang wanita muda sudah menjanda. Anggapan ini akan ditambah lagi bila si wanita tersebut secara fisik bagus menurut masyarakat tadi. Terlepas karena situasi apa si wanita itu menjanda, kecenderungan masyarakat menempatkan posisi janda sebagai seorang yang konotasinya kurang baik bisa dikatakan hampir selalu ada. Konotasi ini bahkan akan lebih membuat kuping panas, kalau si wanita ini menjanda akibat perceraian.

Suatu pagi sekelompok ibu asyik bercengkrama sambil belanja sayuran dari tukang sayur keliling. Si tukang sayur memberikan info tentang warga baru di kompleks sebelah yang janda muda beranak satu, cantik lagi, begitu tambahnya. Lalu seorang ibu menyambut dengan,”Wah, harus hati-hati nih, nanti para suami ngelirik dia lagi.” Sebuah obrolan kacangan yang ironisnya keluar dari mulut-mulut para wanita yang mestinya berada di sisi si wanita yang janda itu. Mereka yang bisa berkata-kata begitu sepertinya tidak bisa mensyukuri hidupnya yang masih bersuami. Mereka juga seakan-akan buta bahwa keadaan menjanda itu bukanlah hal yang mudah apalagi kalau si wanita harus menafkahi keluarganya.

Anggapan lain yang cukup simpang-siur di masyarakat adalah bahwa seorang janda itu cuma boleh menikah dengan seorang laki-laki yang menduda atau kalau pun masih perjaka, bukan yang masih muda lagi. Hal ini bisa saya katakan begini, karena saya lihat sendiri prakteknya di masyarakat. Contohnya saja, ketika saya masih SMP, seorang tetangga kami di Jakarta berencana menikah dengan seorang wanita yang lebih tua dari dia. Suatu hari, saya mendengar obrolan antar tetangga tentang rencana pernikahannya itu.

“Udah denger ya di Dedi mau nikah sama Rika?”
“Iya ya, kok mau sih? Kan Rika janda, punya anak gadis lagi. Si Dedi kan ganteng gitu, sayang.”

Seakan-akan suatu hal yang sia-sia, kalau seorang laki-laki muda perjaka ting-ting memilih seorang janda yang mungkin 10 tahun seniornya untuk menjadi istrinya. Kalau si istri ini kaya raya, mungkin orang-orang berusaha mengerti. Tapi kalau si wanita ternyata biasa-biasa saja dan memiliki anak (anak) yang sudah remaja atau dewasa, amat disayangkan keputusan laki-laki ini.

Mungkin ini juga yang menyebabkan kawan lama saya bersedih mengahadapi omongan-omongan kurang baik tentang janda. Walaupun janda sebetulnya sudah menjadi bagian dari cerita hidup masyarakat Indonesia, tetap saja meskipun jaman semakin maju, pemikiran orang kadang tidak bisa sejalan. Cerita rakyat seperti Malin Kundang, yang menempatkan keadaan ibunya yang janda yang bersusah-payah membesarkan anaknya dan berusaha menafkahi mereka berdua, layaknya dia adalah janda yang baik. Dia merupakan simbol seorang ibu yang sebaik-baiknya. Coba kita simak cerita tentang janda lainnya dari cerita Tangkuban Perahu. Dia digambarkan sebagai seorang wanita yang cantik yang bisa meluluhkan hati pria mana saja bahkan putranya sendiri jatuh hati padanya. Di sini si wanita digambarkan sebagai seorang penggoda, lain halnya dengan ibu Malin Kundang.

Janda adalah status semata yang sama halnya dengan “menikah”, “tidak menikah”, “duda”, “perjaka”, “perawan” dan kata sandang lainnya yang beredar di masyarakat. Terkadang dalam hidup seseorang harus berhadapan dengan pilihan yang sulit bila masalah akhirnya menyebabkan pernikahannya kandas. Atau ketika kuasa Tuhan bicara lain dari rencana sepasang manusia, dan membuat yang ditinggalkan harus menjalani hidup sendiri. Kalau dalam ajaran agama Islam posisi janda ini diletakkan sedemikian rupa yang harus kita hormati, rasanya tidak adil menempatkan mereka dalam kenegatifan. Dan rasulullah pun beristrikan para janda yang ditinggal suaminya meninggal di medan perang, karena beliau ingin menjaga kehormatan para wanita tersebut dan menjamin masa depan anak-anaknya. Sedangkan dalam mayarakat beberapa dari kita menempatkan seorang janda layaknya obyek tabloid gosip. Rasanya ganjil kalau kita timpang sebelah memberikan cap yang kurang baik pada seorang janda, sedangkan bagi seorang duda, sepertinya hal yang biasa saja.

Ketika kita memutuskan untuk memberikan cap tertentu pada sebuah status, tengoklah kembali siapa diri kita sebenarnya ini. Kenapa kita tidak bisa melihat seseorang karena dia adalah pribadi yang menarik, welas-asih, baik hati atau periang? Kenapa kita tidak bisa mengukur seseorang karena kepandaiannya memasak, merangkai bunga, menata rambut atau kepiawaiannya bermain musik? Apa perlu kita mencampuradukkan status seseorang dengan kemampuannya dalam masyarakat dan memberikan nilai rendah hanya karena dia berbeda? Status, apapun itu, apalagi seorang janda, mestinya membuat kita berpikir keras. Berpikir bagaimana si wanita itu menghidupi keluarganya, kalau dia memiliki anak (anak). Berpikir bagaimana bisa berlaku profesional di kantor, bukannya menyulut gosip-gosip iseng tentang kawan kerja yang seorang janda. Semestinya kita terus belajar dengan berkaca pada orang lain, karena di beberapa hal bisa jadi kita ini lebih beruntung.

Daftar pustaka
http://dianadji.multiply.com/ 
http://www.perempuanindonesia.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar